Teladani Pangeran Diponegoro, Umat Buddha Rawat Kemerdekaan dan Perkuat Kerukunan
Makassar, 1 Mei 2026 – Dalam rangka menyambut Bulan Bakti Waisak 2570 BE/2026, Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) Sulawesi Selatan menggelar kegiatan Karya Bakti Waisak di Taman Makam Pahlawan Pangeran Diponegoro, Jumat (1/5/2026).
Kegiatan ini berupa kerja bakti membersihkan area makam, khususnya makam Pangeran Diponegoro, sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasa perjuangannya dalam melawan penjajahan.
Karya bakti tersebut dipimpin langsung oleh Ketua DPD Permabudhi Sulawesi Selatan, Dr. Ir. Yongris, MM, dan melibatkan umat Buddha dari berbagai majelis se-Sulawesi Selatan, di antaranya MAGABUDHI, MBI, WANDANI, Pemuda Theravada Indonesia (Patria), serta para relawan.
Turut hadir Pembimas Buddha Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulsel, Sumarjo, S.Ag., M.M., serta Romo Hemajayo Thio yang memimpin doa penutup.
Rangkaian kegiatan diawali dengan sambutan Pembimas Buddha Sumarjo S Ag MM Sekaligus pembacaan puisi yang menambah suasana khidmat dan penuh makna.Menariknya, MAGABUDHI yang baru terbentuk tahun lalu turut ambil bagian untuk pertama kalinya dalam kegiatan ini. Ketua panitia menyebut keikutsertaan tersebut sebagai momentum penting yang diharapkan dapat menjadi agenda rutin tahunan.
Dalam sambutannya, PEMBIMAS Buddha Sumarjo mengajak seluruh umat Buddha untuk meneladani semangat perjuangan Pangeran Diponegoro. Ia menekankan bahwa perjuangan sang pahlawan tidak didasarkan pada perbedaan latar belakang, melainkan demi kepentingan bangsa.
“Beliau diasingkan ke Makassar hingga wafat. Perjuangannya tidak memandang adat istiadat, satu tujuan: untuk bangsa. Kita sebagai umat Buddha harus memiliki semangat yang sama, yakni merawat kemerdekaan dan menjaga keharmonisan tanpa melihat perbedaan aliran,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa bulan Waisak merupakan momentum suci bagi umat Buddha untuk memperbanyak kebajikan dan memperkuat nilai-nilai kemanusiaan.
Sementara itu, Ketua DPD Permabudhi Sulsel Dr Ir Yonggris MM menyoroti filosofi kepahlawanan yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
Pahlawan sejati tidak memiliki musuh, tetapi sering dimusuhi. Pangeran Diponegoro berjuang bukan karena membenci, melainkan demi mempertahankan tanah leluhur. Kita harus melakukan kebaikan tanpa menyimpan kebencian,” ungkapnya.
Ia juga mengapresiasi kebersamaan lintas majelis yang terjalin dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, kolaborasi yang solid akan memberikan dampak kebajikan yang lebih besar bagi masyarakat.
“Hari ini kita hadir lengkap. Jika dilakukan bersama-sama, maka nilai kebajikannya semakin luas. Pahlawan paling berat adalah yang mampu mengalahkan diri sendiri,” tambahnya.
Selain kegiatan karya bakti, Permabudhi Sulsel juga telah menyiapkan rangkaian kegiatan lanjutan dalam perayaan Waisak 2570 BE. Program tersebut meliputi kegiatan Eco Dhamma berupa pembagian bibit tanaman di vihara-vihara se-Kota Makassar, program Bio Berkah, serta edukasi cinta lingkungan di Pondok Pesantren Al-Imam Ashim Makassar.
Kegiatan lain yang direncanakan antara lain bakti sosial kesehatan dan donor darah, dialog kebangsaan oleh Gemabudhi, meditasi dan doa untuk bangsa, serta Sannipata Waisak Open House. Salah satu program unggulan adalah kegiatan Eco-Pesantren yang akan digelar pada 17 Mei 2026 di kawasan Jalan Hertasning, dengan target 600 santri.
Program ini mencakup pembuatan biopori, penghijauan, serta edukasi pengelolaan sampah dan kebersihan lingkungan.
Karya Bakti Waisak ini menjadi pembuka rangkaian perayaan Waisak 2570 BE oleh Permabudhi Sulawesi Selatan. Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang penghormatan kepada pahlawan, tetapi juga sebagai wujud nyata penguatan nilai kebangsaan, kepedulian sosial, dan kerukunan antarumat beragama.
Acara ditutup dengan pembacaan puisi oleh ibu pani dan doa bersama yang dipimpin oleh Romo Hemajayo Thio, sebagai simbol harapan akan kedamaian dan persatuan bangsa.
Penulis Jumriati Editor media apinusantara my Id







