Makassar, 18 April 2026 — Badan Pengurus Wilayah (BPW) Kerukunan Keluarga Luwu Raya (KKLR) Sulawesi Selatan menggelar kegiatan Halal Bihalal 1447 Hijriah yang dirangkaikan dengan Dzikir Akbar serta Semarak Hari
Perjuangan Rakyat Luwu (HPRL) ke-80. Kegiatan ini berlangsung di Graha Pena Makassar dan mengusung tema “Merajut Ukhuwah, Memperkuat Spirit
Perjuangan Provinsi Luwu Raya.”
Acara tersebut dihadiri ratusan tokoh penting, mulai dari unsur pemerintah, anggota DPR, kepala daerah, akademisi, tokoh adat, tokoh masyarakat, hingga perwakilan organisasi kemasyarakatan dan pemuda.
Antusiasme Peserta Capai 500 Undangan
Ketua panitia, Ir. H. Ahmad Huzaen, MM, dalam laporannya menyampaikan rasa syukur atas tingginya antusiasme peserta.
“Undangan yang hadir mencapai kurang lebih 500 orang, terdiri dari 12 organisasi serta masyarakat umum. Ini menunjukkan semangat kebersamaan dan kekuatan solidaritas masyarakat Luwu Raya,” ujarnya.
Momentum Silaturahmi dan Konsolidasi
Ketua BPW KKLR Sulsel, Ir. H. Hasbi Syamsu Ali, MM, dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan Halal Bihalal ini menjadi momentum penting untuk menyatukan kembali kekuatan masyarakat Luwu Raya yang tersebar.
Ia menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar ajang silaturahmi, tetapi juga wadah konsolidasi berbagai elemen dalam mendorong perjuangan pembentukan Provinsi Luwu Raya.
“Kita ingin menyatukan energi yang terurai, memperkuat kebersamaan, serta membangun sinergi antara tokoh masyarakat, pemerintah, akademisi, dan seluruh elemen untuk tujuan besar kita bersama,” tegasnya.
Dukungan Kepala Daerah dan Tokoh Masyarakat
Perwakilan kepala daerah se-Luwu Raya yang hadir juga menyampaikan dukungan terhadap semangat persatuan dan perjuangan tersebut. Dalam sambutannya, ditegaskan bahwa aspirasi pembentukan Provinsi Luwu Raya harus tetap dijalankan dengan mengedepankan prinsip kebersamaan dan kehati-hatian.
Selain itu, kehadiran para tokoh senior, mantan kepala daerah, serta anggota legislatif turut memperkuat legitimasi moral dan politik atas perjuangan tersebut.
Pesan Datu Luwu: Jaga Persatuan dan Nilai Budaya
Yang Mulia Datu Luwu XL, Andi Maradang Mackulau Opu To Bau, dalam sambutannya menekankan pentingnya menjaga persatuan di tengah perjuangan.
Ia mengingatkan bahwa meskipun secara administratif wilayah Luwu Raya terbagi, namun secara adat dan budaya tetap merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
“Pertemuan ini harus menjadi penguat ikatan batin kita. Kita adalah satu kesatuan yang kokoh, seperti mata rantai yang tidak terputus,” ujarnya.
Penyerahan Naskah Akademik 700 Halaman
Salah satu agenda penting dalam kegiatan ini adalah penyerahan naskah akademik pembentukan Provinsi Luwu Raya yang disusun oleh tim dari Universitas Andi Djemma.
Wakil Rektor Universitas Andi Djemma, Dr. Abdul Rahman Nur, SH., MH, menjelaskan bahwa naskah tersebut merupakan hasil kajian komprehensif yang melibatkan sekitar 20 akademisi selama kurang lebih empat bulan.
“Dokumen ini setebal hampir 700 halaman dan memuat kajian strategis terkait potensi sumber daya, aspek hukum, serta peluang pembentukan provinsi tanpa harus bergantung pada syarat lima kabupaten/kota,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa kajian tersebut membuka peluang alternatif melalui pendekatan strategis nasional sesuai regulasi yang ada.
Diskusi Tematik: Progres dan Tantangan
Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan diskusi tematik bertajuk “Progres dan Tantangan Pembentukan Provinsi Luwu Raya.”
Tiga narasumber hadir dalam diskusi tersebut, yakni:
Dr. Abdul Rahman Nur, SH., MH (Wakil Rektor Universitas Andi Djemma)
Dr. Hasrullah, MA (Akademisi Universitas Hasanuddin)
Darwis Ismail, ST., MMA (Ketua BPW KKLR)
Dalam diskusi tersebut, ditegaskan bahwa perjuangan pembentukan Provinsi Luwu Raya telah memiliki sejumlah dukungan penting, termasuk rekomendasi dari pemerintah daerah dan DPRD kabupaten/kota.
Selain itu, strategi perjuangan kini tidak hanya melalui pendekatan administratif, tetapi juga melalui jalur kebijakan strategis nasional.
Harapan dan Arah Perjuangan
Para pembicara sepakat bahwa pembentukan Provinsi Luwu Raya bukan semata-mata persoalan administratif, tetapi merupakan kebutuhan nyata masyarakat untuk pemerataan pembangunan, efisiensi pelayanan publik, dan peningkatan kesejahteraan.
Dengan potensi sumber daya alam yang besar, mulai dari sektor kelautan, kehutanan, hingga energi, Luwu Raya dinilai memiliki kapasitas kuat untuk menjadi provinsi mandiri.
Kegiatan Halal Bihalal ini pun diharapkan menjadi titik penguat konsolidasi dan langkah strategis lanjutan dalam memperjuangkan terbentuknya Provinsi Luwu Raya.
Penulis jumriati







