Klenteng Vihara Dewi Agung Bahari menjadi pusat pelaksanaan puncak perayaan Dewi Maco yang dirangkaikan denganpemilihan Loecu, Sabtu (09/05/2026).
Kegiatan keagamaan dan budaya tersebut berlangsung meriah serta dihadiri berbagai tokoh agama, tokoh masyarakat, pengurus vihara, hingga perwakilan komunitas Tionghoa di Kota Makassar.
Acara tersebut dihadiri langsung Ketua Kelenteng Vihara Dewi Agung Bahari, Soedirjo Aliman, Ketua Panitia Go Utomo, Ketua DPD Permabudhi Provinsi Sulawesi Selatan Dr. Ir. Yonggris,Abd Majid Akid,serta Pembimas Buddha Provinsi Sulawesi Selatan Sumarjo S, Ag MM.
Turut hadir pula Hemajayo Thio, Ketua Yayasan Budi Luhur Ong Robert Wongsari, Ketua Vihara Dharma Agung K. Robert, serta Steven Sanusi bersama sejumlah tokoh masyarakat lainnya.
Selain itu, sejumlah rumah ibadah dan komunitas turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut, di antaranya Rumah Ibadah Sinar Damai, Vihara Avalokitesvara, Klenteng Xian Ma, Taokwanji Li Gong, Khonghucu Makassar, Vihara Istana Avalokitesvara, serta Vihara Sasanadipa.
Ketua Kelenteng Vihara Dewi Agung Bahari, Soedirjo Aliman, menyampaikan rasa syukur karena seluruh rangkaian acara berjalan sesuai rencana dan penuh kebersamaan. Menurutnya, tradisi pemilihan Loecu merupakan bagian penting dalam menjaga warisan budaya dan spiritual masyarakat Tionghoa.
“Setiap periode penyelenggaraan hari ulang tahun Dewi Maco, para Loecu telah mempersiapkan diri dan berlatih selama satu tahun. Mereka memiliki tugas masing-masing dalam mengatur dan menjalankan prosesi kegiatan keagamaan,” ujarnya.
Sementara itu, Pembimas Buddha Provinsi Sulawesi Selatan, Sumarjo, mengapresiasi kebersamaan seluruh elemen masyarakat yang hadir dalam kegiatan tersebut. Ia menilai perayaan Dewi Maco bukan hanya menjadi agenda keagamaan, tetapi juga momentum mempererat persatuan antarwarga dan lintas komunitas.
“Kegiatan ini mampu menyatukan warga dari berbagai yayasan, suku, maupun komunitas. Diharapkan momentum seperti ini dapat menjadi bingkai persatuan masyarakat Tionghoa dalam mendukung program pemerintah dan bersama-sama membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ungkapnya.
Puncak perayaan berlangsung khidmat dengan rangkaian ritual, doa bersama, serta prosesi pemilihan Loecu yang menjadi simbol pengabdian dan tanggung jawab dalam pelayanan keagamaan di lingkungan vihara. Suasana penuh kekeluargaan dan toleransi tampak mewarnai seluruh jalannya acara hingga selesai.
Jumriati

