Makassar — Dalam rangkaian peringatan Hari Raya Waisak 2570 BE/2026, umat Buddha yang tergabung dalam kegiatan bakti sosial menggelar kerja bakti di Taman Makam Pahlawan Pangeran Diponegoro, Jumat (1/5/2026).
Kegiatan yang berlangsung sejak pagi hari ini diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh Romo Hemajayo. Dalam suasana khidmat, para peserta yang terdiri dari relawan dan umat Buddha tampak mengikuti rangkaian doa dengan penuh penghormatan, sebagai bentuk penghargaan atas jasa para pahlawan yang telah gugur demi bangsa dan negara.
Dalam doa yang dipanjatkan, disampaikan ungkapan rasa syukur dan terima kasih yang mendalam kepada para pahlawan Kusuma Bangsa. Mereka dikenang sebagai sosok yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi terciptanya kehidupan yang damai serta masa depan yang lebih baik bagi generasi saat ini.
“Melalui kerja bakti yang sederhana ini, kami mempersembahkan penghormatan tulus sebagai ungkapan terima kasih atas jasa dan pengorbanan yang tidak ternilai,” demikian penggalan doa yang dibacakan dalam kegiatan tersebut.
Selain doa bersama, kegiatan ini juga diisi dengan aksi bersih-bersih area makam sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan sekaligus penghormatan nyata kepada para pahlawan. Para peserta tampak membersihkan area sekitar, merapikan makam, serta menjaga kebersihan lokasi sebagai simbol penghargaan dan bakti.
Doa yang dipanjatkan juga mengandung harapan agar jasa kebajikan yang dilakukan dapat menjadi pelimpahan kebajikan bagi para pahlawan yang telah mendahului. Umat berharap para arwah pahlawan mendapatkan kebahagiaan dan kedamaian di alam yang baik, terbebas dari penderitaan.
Kegiatan ini turut menjadi momentum refleksi bagi para peserta untuk terus menumbuhkan nilai-nilai luhur dalam kehidupan sehari-hari, seperti cinta kasih, kesadaran, dan semangat berbuat kebajikan bagi sesama dan bangsa.
Dengan semangat Waisak, kerja bakti ini tidak hanya menjadi kegiatan sosial, tetapi juga sarana memperkuat nilai kemanusiaan, persatuan, dan penghormatan terhadap sejarah perjuangan bangsa Indonesia.
Acara ditutup dengan doa penutup dan pengucapan paritta, “Sabbe sattā bhavantu sukhitattā,” yang bermakna harapan agar सभी makhluk hidup berbahagia, diiringi seruan “Sadhu… Sadhu… Sadhu” sebagai peneguhan kebajikan yang telah dilakukan.
Jumriati








